Plaza Kuno 5.500 Tahun Yang Lalu
Written by Administrator Published in: World is Awesome, Travel n Culinary Comments 0 Pdf Print Email 
|
Sebuah plaza bundar yang dibangun 5.500 tahun lalu telah ditemukan di Peru, dan para arkeolog yang terlibat dalam penggalian mengatakan Senin penentuan tanggal karbon menunjukkan plaza itu merupakan salah satu bangunan tertua yang pernah ditemukan di Amerika. Satu tim ahli kekunoan Peru dan Jerman menemukan plaza itu, yang tersembunyi di bawah potongan lain arsitektur di reruntuhan yang dikenal sebagai Sechin Bajo, di Casma, 370 Km di utara Lima, ibukota Peru. |
|
Read more...
|
|
Misteri Jejak Kaki Batu Di China
Written by Administrator Published in: World is Awesome, Travel n Culinary Comments 0 Pdf Print Email 
Pada tanggal 1 Juli 2009, news.cn, sebuah media di Cina mempublikasikan penemuan jejak-jejak kaki misterius di wilayah Qianjiang, Kota Xinhua. Disebut misterius karena jejak kaki itu ditemukan diatas permukaan batu keras yang terletak pada ketinggian 1400 kaki diatas permukaan laut. Jejak kaki itu ditemukan tepatnya di di Tebing Zhongsan yang memiliki ketinggian 1400 kaki diatas permukaan laut. Seluruhnya ada 5 baris dan panjangnya bervariasi antara 10 hingga 30 cm. Jarak antara masing-masing jejak kaki sekitar 50 cm dan terlihat menyerupai jejak anak kecil dan orang dewasa.
|
|
Read more...
|
Tanah Haiti Kurus Kerontang
Sebagai pengganti makanan-makanan impor yang tidak lagi terjangkau, sejumlah warga Haiti yang putus asa beralih ke kue yang terbuat dari lempung, garam, dan lemak––makanan tambahan tradisional untuk perempuan hamil.“Te a fatige,” ujar 70 persen petani Haiti dalam sebuah survei baru-baru ini saat ditanyai tentang permasalahan utama pertanian yang mereka hadapi. “Bumi sudah lelah.” Hal itu tidak mengherankan. Hampir selalu sejak 1492, tahun ketika Columbus menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Hispaniola yang tertutup hutan luas, negeri yang bergunung-bunung ini telah mengalami pengrusakan tanah pucuk dan pertumpahan darah – pertama oleh Spanyol yang menanam tebu, kemudian oleh Prancis yang menebangi hutan guna membuka lahan untuk kopi, nila, dan tembakau yang menguntungkan. Bahkan setelah budak-budak Haiti memberontak pada 1804 dan menyingkirkan jerat kolonialisme, Prancis memungut 93 juta frank sebagai uang pengganti dari negara bekas jajahannya tersebut––sebagian besar dalam bentuk kayu.
|
|
Read more...
|
Dua gunung api besar tersemat di taman nasional yang ada di tengah-tengah pulau paling utara Jepang, Hokkaido.Api dan air berbenturan di Daisetsuzan. Dua gunung api besar tersemat di taman nasional yang ada di tengah-tengah pulau paling utara Jepang, Hokkaido, tersebut. Puncak-puncaknya yang berasap melandai ke lereng yang berhutan, berbantalkan salju, dan terkikis sungai—200.000 hektar dengan warnanya berganti-ganti dari hijau, jingga, merah, dan putih, sesuai musim. Kepulauan Jepang menyeruak dari dalam laut akibat kekejaman seismik. Lempeng-lempeng tektonik menggelincir dan saling menimpa, lapisan batu cadas meleleh dan terkumpul di bawah tanah, gunung api meletus. Asahi Dake, gunung tertinggi di Hokkaido yang tidur selama berabad-abad menjulang di utara.
Tokachi Dake di selatan, terakhir kali meletus pada 2004. Dalam iklim Hokkaido yang dingin dan basah, gunung-gunung api yang dibangun oleh api internal Bumi tertutupi salju dan salju berubah menjadi aliran air yang deras, hutan, lumut, dan bunga. Daisetsuzan berarti “gunung salju yang besar.” Tetumbuhan yang lebat menyebabkan sebagian besar Daisetsuzan tak bisa dimasuki, tetap lestari dengan sendirinya, tidak terganggu, kecuali oleh adanya beberapa jalan setapak. Di negara kepulauan yang padat ini—salah satu negara yang paling padat industri dan paling padat penduduknya di dunia—taman tersebut menyediakan ruang terbuka yang langka, puncak gunung dan hutannya dikelilingi lahan-lahan pertanian yang asri. Taman itu menjadi tempat persinggahan rusa, burung, kelinci, dan beruang, serta pepohonan, semak belukar, dan aneka bunga. Wisatawan Jepang yang menyandang ransel terpesona oleh kemegahan alam tersebut.
|
|
Read more...
|
Jalan Gadjah Mada, Daerah Elite Zaman VOC
Seperti inilah pemandangan Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, pada akhir abad ke-19. Masih sunyi, sepi. Tak banyak kendaraan lalu lalang. Hanya sesekali jalan tanah itu dilewati kereta kuda yang ditumpangi para pembesar Belanda.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
Mas Rully, apakah saya boleh mengeta...
All people deserve good life and busi...